info pegi

Showing posts with label Bulan. Show all posts
Showing posts with label Bulan. Show all posts

Wednesday, November 17, 2010

Ayo Bercocok Tanam di Bulan!? Mungkinkah ?

Satelit Bumi, Bulan (AP Photo/Rafiq Maqbool)
 
Ayo Bercocok Tanam di Bulan!
Dalam 30 hari, sayuran segar siap dimakan.
Rabu, 20 Oktober 2010, 07:30 WIB
Elin Yunita Kristanti


VIVAnews -- Mungkin benar, bahwa tak ada kehidupan di Bulan. Namun, bukan berarti satelit Bumi ini tak bisa jadi koloni manusia.

Selain jaraknya relatif dekat dengan Bumi, manusia  juga tak harus kelaparan di sana.

Kini, ilmuwan sedang mengembangkan prototipe 'greenhouse' atau rumah kaca untuk bercocok tanam yang bisa jadi kunci untuk menumbuhkan bahan makanan segar dan sehat di Bulan, atau bahkan di Mars.

Proyek yang dikerjakan peneliti di Pusat Pengendalian Lingkungan Agrikultur (CEAC) University of Arizona adalah bagaimana menumbuhkan tanaman tanpa media tanah.

Bahan makanan seperti kentang, kacang, tomat, cabe, dan sayur-sayuran bisa tumbuh di media air alias hidroponik.

Apa bedanya dengan pertanian hodroponik di Bumi?

Tim ini membangun prototipe rumah kaca Bulan di Laboratorium Iklim Ekstrem CEAC -- yang direpresentasikan dengan struktur beberapa tabung. 

Tabung-tabung ini akan dikubur di bawah permukaan Bulan. Tujuannya, melindungi tanaman dan astronot dari jilatan api Matahari yang mematikan, micrometeorites dan sinar kosmik. Juga melindungi tanaman dari radiasi mematikan.

Ini jelas beda dengan rumah kaca konvensinal yang terpampang untuk menerima sinar matahari dan panas.

Canggihnya, modul rumah kaca yang dilapisi membran bisa ditempatkan di disk selebar 4 kaki untuk memudahkan perjalanan antar planet.

Juga akan dilengkapi dengan lampu uap sodium khusus yang didinginkan dengan air,  dan amplop panjang yang berisi benih dan kecambah tanaman hidroponik.

"Kita bisa menyebarkan modul dan membuat air mengalir ke lampu hanya dalam waktu sepuluh menit," kata Phil Sadler, direktur  Sadler Machine Co -- yang mendesain dan membangin rumah kaca Bulan.

"Hanya sekitar 30 hari kemudian, Anda akan memiliki sayuran segar yang siap dimakan," kata dia, seperti dimuat situs Space.com, Selasa 19 Oktober 2010 malam.

Modul ini bergantung pada komponen robot untuk bercocok tanam sistem organik ini.

Namun, "kami ingin sistem ini bisa beroperasi sendiri," kata Murat Kacira, profesor teknik pertanian dan biosistem di Universitas Arizona.

Para ilmuwan juga sedang merancang sistem yang memungkinkan operator dari Bumi melakukan intervensi.

Beberapa ide dalam proyek ini diilhami gudang bibit yang berada di Kutub Utara.

***

Aspek penting lain dari desain rumah kaca adalah penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien --  yang pastinya jadi isu krusial saat manusia berada di permukaan Bulan atau planet lain.

Karbon dioksida dimasukkan dalam prototipe rumah kaca tangki bertekanan. Tapi, astronot juga bisa menyumbang CO2 dengan cara yang sederhana: bernafas.

Sementara, air untuk menumbuhkan tanaman bisa diambil dari ekstraksi urin astronot.
Juga lampu berpendingin air, bisa digantikan kabel serat optik yang akan menyalurkan sinar matahari ke permukaan Bulan -- ke tanaman.
Kalaupun menciptakan koloni tumbuh-tumbuhan di Bulan dirasa terlalu muluk, ide juga bisa diterapkan di Bumi -- di perkotaan yang padat yang bahkan tak tersisa tanah untuk bercocok tanam.

(Space.com/hs)
• VIVAnews
Rati

Air Kawah Bulan Lebih Banyak Dibanding Sahara



  (NASA)
Kawah di Bulan juga mengandung karbon monoksida, amonia, merkuri, kalsium, dan perak.
Jum'at, 22 Oktober 2010, 13:57 WIB
Muhammad Firman

VIVAnews - Sebuah kawah dingin di kutub selatan Bulan ternyata dipenuhi oleh es. Di beberapa tempat, kawasan tersebut bahkan lebih basah dibanding gurun Sahara. Temuan ini meningkatkan peluang didirikan basis tempat tinggal manusia di Bulan.

Kemungkinan adanya air tersebut diungkapkan oleh enam penelitian yang menganalisa hasil temuan pesawat ulang alik NASA yang “menghantam” Bulan dengan kecepatan 9.000 kilometer per jam pada 9 Oktober 2009 lalu.

Ketika itu, pesawat mendarat di kawah Cabeus, di kutub Selatan, Bulan. Kawah berukuran lebar 97 kilometer tersebut sepanjang sejarahnya, tidak pernah mendapatkan sinar matahari.

Hasil terbaru ini juga melengkapi temuan sebelumnya, di mana Cabeus juga mengandung sumber daya lain seperti karbon monoksida, amonia, methana, merkuri, kalsium, magnesium, dan perak dalam jumlah yang cukup besar. Meski demikian, jumlahnya tidak cukup besar untuk ditambang oleh manusia.
bukan berarti itu bisa ditambang.
Secara total, es mencakup 5,6 persen dari keseluruhan massa permukaan Cabeus. Membuat kawah tersebut dua kali lebih basah dibandingkan dengan daratan Gurun Sahara.

“Ini mengejutkan,” kata Tony Colaprete, peneliti NASA yang bertugas di AMES Research Center di Moffett Field, California, seperti dikutip dari Livescience, 22 Oktober 2010. “Banyaknya tempat di Bulan yang lebih basah dibandingkan dengan sebagian tempat di Bumi merupakan penemuan yang menarik. Apalagi, ditemukan pula ternyata air yang ada di bulan tersebut relatif murni,” ucapnya.

Sayangnya, bagian dasar kawah yang gelap permanen juga bersuhu sangat dingin. Sangat sulit mendesain peralatan yang mampu beroperasi pada suhu minus 233 derajat dan tidak mendapat energi dari sinar matahari.

Peneliti mengamati partikel-partikel yang terlontar ke udara saat pesawat menghantam permukaan Bulan. “Kristal es yang terlontar mengandung 80 sampai 90 persen air,” kata Colaprete. “Jika tidak, maka kristal tersebut akan hilang dalam 20 detik, menguap terkena sinar matahari,” ucapnya.
• VIVAnews
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...